Sobat pungawa sering tidak sih mengalami pegal-pegal, sakit leher, dan sakit pada bagian tulang punggung? Jika jawabannya ya, bisa jadi karena kita terlalu lama duduk pada posisi yang sama.
Jika sobat pungawa mengalami hal itu, maka sobat dapat mulai melakukan peregangan rutin setiap hari agar postur tubuh sobat dapat kembali normal. Peregangan perlu dilakukan lho ketika kita mulai merasa tubuh tegang dan kaku. Peregangan bertujuan melemaskan atau melenturkan bagian tubuh yang kaku serta tegang. Mari simak apa saja manfaat melakukan peregangan secara rutin!
Dapat Membantu Memperbaiki Postur Tubuh
Melakukan peregangan dapat membantu memperbaiki postur tubuh kita, terutama jika kita terus-menerus melakukan posisi duduk yang membungkuk dan juga berjalan yang tidak tegak, yang akan menyebabkan postur tubuh kita berubah dan tidak semestinya. Melakukan peregangan secara rutin dengan gerakan yang tepat dapat membantu mengembalikan postur tubuh menjadi seperti semula. Posisi punggung akan kembali tegak, serta tulang ekor juga akan kembali ke posisi awal.
Dapat Menghindari Cedera
Peregangan dapat meningkatkan vitalitas dan gerak tubuh sehingga lebih mudah dalam beradaptasi dengan gerakan yang tiba-tiba. Sebelum berolahraga, hendaknya kita melakukan peregangan agar dapat terhindar cedera saat berolahraga.
Dapat Membantu Mengruangi Stres
Manfaat lain dari peregangan berkaitan dengan kesehatan jiwa adalah mengurangi stres. Peregangan dapat menstimulasi otot-otot tubuh agar menjadi lebih santai, hal ini membantu mengurangi stres.
Memperbaiki Metabolisme Tubuh
Peredaran darah bisa menjadi lebih lancar jika kita rutin melakukan peregangan lho, dan tentunya metabolisme tubuh lebih cepat.
Sudah tahu kan manfaat melakukan peregangan. Yuk jangan malas beranjak dari kursi nyamannya, mari bergerak, dan lakukan peregangan minimal 5 menit setiap hari, dan dapatkan manfaatnya untuk kesehatan tubuh kita.
Akhir-akhir ini tidak jarang kita mendengar istilah NEW NORMAL atau era normal baru. New normal adalah istilah yang digunakan untuk mencerminkan perubahan dalam masyarakat. Jika dikaitkan dengan Pandemi COVID-19, maka new normal berarti perubahan sikap, perilaku dan kebiasaan masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari selama masa pandemi COVID-19. Namun dalam penerapannya di masyarakat, ternyata diksi New Normal justru membuat masyarakat hanya fokus pada kata ‘Normal’ nya saja dan tidak menyeluruh pada ‘new normal’ atau pembaruan kehidupan yang normal. Pemerintah akhirnya mengubah diksi new normal menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru agar tidak menjadi istilah yang bias makna di masyarakat dan lebih mudah diterapkan oleh masyarakat.
Mengapa harus melakukan Adaptasi Kebiasaan Baru?
Wabah pandemi COVID-19 ini menuntut kita untuk beradaptasi pada kebiasaan baru, ditambah dengan mulai adanya pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) membuat kita sebagai manusia harus beradaptasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari dengan menerapkan kebiasaan baru yang sesuai dengan protokol kesehatan, sebagai upaya untuk terhindar dari COVID-19.
Apa saja kebiasaan-kebiasaan yang harus kita terapkan dan biasakan dalam masa Adaptasi Kebiasaan Baru ini?
Menjaga Jarak Fisik (1-2 meter)
Dengan mulai menggeliatnya aktivitas dan ruang publik, tentunya akan semakin sering kita bertemu dengan orang lain. Nah untuk tetap menjaga diri kita agar terhindar dari COVID-19, kita tetap harus menjaga jarak dengan orang lain. Karena dengan menjaga jarak fisik, risiko kita tertular COVID-19 juga lebih rendah.
Selalu Gunakan Masker dengan Benar
Masker merupakan salah satu alat perang wajib di masa sekarang. Setiap kali kita memutuskan untuk keluar dari rumah, maka masker harus selalu dipakai. Penggunaan masker dapat mencegah virus, kuman, bakteri, kotoran yang berada di luar tubuh masuk ke dalam tubuh kita melalui saluran terbuka seperti hidung dan mulut. Perlu diperhatikan juga penggunaan masker yang tepat, yaitu menutupi seluruh area hidung dan mulut, dan mengganti masker secara berkala apabila masker sudah dalam kondisi basah atau kotor.
Sering Cuci Tangan Memakai Sabun dan Air Mengalir
Tangan menjadi salah satu media penyebaran berbagai hal, tak terkecuali virus, bakteri dan kuman karena tangan digunakan untuk menyentuh hampir seluruh permukaan benda seperti HP, gagang pintu, uang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membiasakan mencuci tangan kita setelah menyentuh berbagai barang yang biasa disentuh oleh orang lain, atau jika kita ingin menyentuh bagian wajah kita (terutama mata, mulut, dan hidung) dan ingin makan, maka pastikan tangan kita sudah bersih dan kita sudah melakukan cuci tangan.
Tetap di rumah jika sakit
Jika kita sedang mengalami sakit seperti flu, batuk, demam akan lebih baik jika kita tetap di rumah saja untuk beristirahat sampai pulih. Selain untuk kesehatan diri sendiri, juga sebagai upaya untuk mencegah orang lain tertular flu dan batuk ke orang lain.
Segera mandi setelah bepergian
Setelah beraktivitas di luar rumah, biasakan untuk segera mandi dengan sebelumnya menanggalkan dan merendam baju yang dipakai di air rendaman detergen. Mandi dengan bersih membuat kita terhindar dan membersihkan kotoran yang mungkin menempel di tubuh kita, selain itu juga membuat badan kita menjadi lebih segar dan rileks.
Bawa handsanitizer ke mana saja
Jika kita sedang bepergian ke luar rumah, maka salah satu alat perang penting yang harus selalu dibawa adalah hand sanitizer. Hand sanitizer dapat membantu membersihkan tangan kita dari kotoran, bakteri, dan virus apabila di lokasi yang kita tuju tidak tersedia sarana cuci tangan yang memadai. Namun, yang terpenting adalah tetap mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir.
Lansia dan Balita tetap di rumah saja
Lansia dan Balita merupakan kelompok rentan di masa pandemi COVID-19 ini. Dengan tinggal di rumah, maka risiko itu tentunya akan menurun dan kesehatan juga akan lebih terjaga.
Hindari Kontak Fisik
Menghindari kontak fisik seperti bersalaman di era pandemi ini dapat mengurangi risiko tersebarnya virus dari satu orang ke orang lain. Kita dapat mengganti mengucapkan salam dengan melambaikan tangan, menangkupkan tangan atau tanda lainnya untuk menyapa orang lain.
Penulis : Ajeng Rizki Fauzi
Sumber : Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian KesehatanAKB
Salah satu Program Inovasi Puskesmas Ngaglik II yang terfokus pada kesehatan wanita adalah Pandunya Si Dara (Pos Pelayanan Terpadu yang Sadar IVA dan Sadari).
Program ini dibuat karena tingginya kasus kanker payudara dan kanker servik yang menyerang para wanita, dan masih banyaknya wanita yang belum aware dengan kesehatan organ reproduksinya.
Tidak sedikit wanita yang belum tahu bahwa kedua kanker ini dapat dideteksi sejak dini dengan beberapa pemeriksaan, baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun melalui tenaga kesehatan.
Inspeksi Asam Asetat atau yang lebih mudah disebut IVA, adalah salah satu metode untuk mendeteksi adanya tanda-tanda kanker servik dengan menggunakan usapan asam asetat (asam cuka) 3-5% pada serviks/leher rahim. IVA merupakan metode skrining untuk kanker servik/kanker leher rahim. Dengan dilakukannya IVA, kita dapat mengetahui secara dini apakah ada keganasan atau ketidak normalan pada leher rahim kita.
Sumber : RSU Sejahtera Bhakti & Holistik
IVA mempunyai beberapa keunggulan yaitu selain sebagai metode skrining awal, juga pelaksanaannya yang murah, mudah, dan praktis, serta bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti bidan di Puskesmas, bukan hanya dokter obstetri ginekologi. Selain itu, ketika selesai tes IVA, kita juga langsung dapat mengetahui hasil dari pemeriksaan tersebut, jadi tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengetahui apakah leher rahim kita normal atau tidak normal.
Sedangkan SADARI atau yang mempunyai kepanjangan Periksa Payudara Sendiri adalah sebuah pemeriksaan yang dilakukan oleh diri sendiri untuk mengetahui apakah ada ketidaknormalan pada payudara kita.
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dengan menggunakan tangan dan penglihatan untuk memeriksa apakah ada perubahan fisik pada payudara. Proses ini dilakukan agar semua perubahan yang mengarah pada kondisi yang lebih serius dapat segera ditangani. Pada umumnya payudara akan terasa berbeda ketika menstruasi. Sebelum dan selama periode ini, kebanyakan wanita merasa payudaranya akan menjadi makin kencang dan padat. Memasuki masa menopause, payudara akan terasa lebih kendur dan lembut.
Bagaimana Cara Memeriksa Payudara Sendiri?
Waktu terbaik untuk melakukan SADARI adalah beberapa hari setelah menstruasi berakhir. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain :
Di depan Cermin dengan posisi berdiri
Saat Mandi dengan posisi yang hampir sama dengan berdiri di depan cermin.
Berbaring
Sumber : Yayasan Kanker Payudara Indonesia
Benjolan atau perubahan payudara dapat disebabkan oleh banyak hal. Namun tidak semua benjolan mengarah pada penyakit yang serius seperti kanker. Akan tetapi, kanker yang terlambat ditangani akan membawa dampak yang sangat serius. Oleh karenanya, segera periksakan diri ke dokter jika dalam pemeriksaan mandiri kita menemukan benjolan yang tidak normal seperti benjolan keras pada payudara atau ketiak, kulit menjadi berkerut atau ada cekungan, keluar cairan dari puting payudara, namun bukan ASI, keluar darah dari puting, dan adanya rasa tidak nyaman dan sakit berkelanjutan pada area payudara.
Penting untuk melakukan kedua pemeriksaan ini secara rutin. Tes IVA sendiri dapat dilakukan 1 tahun sekali, sedangkan Sadari, dapat dilakukan secara teratur sebulan sekali. Dengan rutin melakukan pemeriksaan, apabila ada kelainan pada leher rahim dan payudara dapat diketahui sejak dini, dan dapat ditangani dengan tepat sebelum terlambat.
Jadi, jangan lupa untuk melakukan Tes IVA di Puskesmas Ngaglik II setiap hari Sabtu, mulai pukul 08.00 – 11.00 WIB.
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Ngaglik II
Salah satu inovasi yang dilakukan oleh Puskesmas Ngaglik II dalam upaya menekan angka perokok dan penyakit penyerta akibat rokok adalah dengan menggalakan program MEnuju KAwasan TANPA asap ROKok atau yang mudah disingkat dengan nama MEKA TANPA ROK.
Inovasi ini adalah bentuk rencana tindak lanjut dari Perbup Sleman Nomor 42 Tahun 2012 Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Perbup tersebut mengatur mengenai ketentuan-ketentuan implementasi KTR di kabupaten Sleman, seperti kawasan yang termasuk dalam KTR, pembinaan dan pengawasan serta evaluasi KTR, Peran Serta Masyarakat serta Sanksi Administrasi.
Meka Tanpa Rok sendiri sudah memasuki tahun kedua di tahun ini. Pada tahun lalu, kegiatan ini dilaksanakan di salah satu pedusunan di Kelurahan Sukoharjo, Ngaglik yaitu dusun Karanglo. Pada tahun ini Meka Tanpa Rok dilaksanakan di 2 pedusunan yaitu dusun Sedan dan Jongkang, Sariharjo, Ngaglik. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat di tatanan rumah tangga yang tinggal di pedusunan, karena di rumah tangga ini lah ditemukan banyak perokok yang mungkin belum tahu mengenai regulasi kawasan tanpa rokok.
Ada tiga kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian inovasi ini, meliputi sosialisasi Meka tanpa rok, verifikasi meka tanpa rok, serta deklarasi meka tanpa rok. Sosialisi dilakukan kepada masyarakat yang tinggal di pedusunan meliputi bapak-bapak, ibu-ibu, kader kesehatan, karang taruna serta pemangku kebijakan di pedusunan itu sendiri. Harapannya dengan terpapar materi mengenai kawasan tanpa rokok, masyarakat lebih peduli dan dapat menerapkan rencana ini ke dalam pedusunannya. Kegiatan selanjutnya dalam Meka Tanpa Rok adalah verifikasi. Verifikasi dilakukan dengan menggunakan form verifikasi yang dimodifikasi bagi tatanan rumah tangga. Setelah dilakukan verifikasi, pihak puskesmas juga membuat komitmen dengan dusun yang dipilih dalam upaya menerapkan kawasan tanpa rokok. Kegiatan selanjutnya adalah deklarasi, yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, Puskesmas berharap agar setidaknya masyarakat akan lebih peduli dengan mau menerapkan kebijakan KTR secara sederhana seperti menyebarluaskan informasi mengenai KTR pada orang sekitarnya, menerapkan larangan merokok pada saat kegiatan pertemuan, meniadakan asbak selama pertemuan, dan harapan besarnya adalah jumlah orang yang berhenti merokok bertambah, dan jumlah kawasan tanpa rokok juga bertambah sehingga beban penyakit akibat rokok juga ikut berkurang.
Outbond tidak lain merupakan pelatihan manajemen diri (self management) yang memadukan olah pikir, rasa, dan raga. Dan dilakukan di alam terbuka dan dikondisikan di luar kebiasaan. “ Seperti orang yang bekerja meningalkan kebiasaanya berada, berfikir dan berbuat. Kemudian ia mengganti cara berfikir dan cara berbuat tersebut untuk mendapatkan hal-hal yang baru.” (L.Peter Lamury, SH, pembina Pusdiklat kesos Departemen Sosial)
Outbond ini adalah area permainan yang bersifat memberikan eduakasi tentang kekompakan dalam sebuah team dalam melakukan sebuah kegiatan untuk mencapai tujuan bersama sehingga permainan ini bagus untuk dijadikan sebuah permain yang menghibur dan memberikan manfaat yang lebih.
Tujuan dari Outbond :
Tujuan utama kegiatan pelatihan ini adalah melatih para peserta untuk mampu menyesuaikan diri(adaptasi) dengan perubahan yang ada dengan membentuk sikap professionalisme para peserta yang didasarkan pada perubahan dan perkembangan karakter, komitmen serta kinerja yang diharapkan akan semakin lebih baik. Sikap dan perilaku professionalisme seperti ini meliputi :
1.Terbentuknya suatu komitmen yang utuh dari setiap peserta melalui 4C, yaitu :
peningkatan kompetensi (competency),
pembentukan kosepsi (conception)pemikiran yang komprehensif,
terjadinya hubungan (connection) yang semakin erat diantara para bawahan dan atasan, serta
munculnya keyakinan akan kepercayaan diri (confidence) akan kemampuan masing-masing pesera yang akan berpengaruh dalam membangun rasa memiliki (the owners) dan bukan sekedar menjadi karyawan. Perubahan ini akan terlihat dari bertumbuh kembangnya rasa tanggung-jawab dalam melakukan tugas di unit kerjanya masing-masing.
2.Pola perilaku yang berkarakter dalam melakukan tugas-tugas kehidupan, berdisiplin, bertanggung jawab, berorientasi ke masa depan, mengutamakan tugas pengabdian, memiliki sikap, etika dan etos kerja yang tinggi.
3.Meningkatkan semangat kerja dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing, serta meningkatkan keberanian peserta dalam mengambil setiap resiko (risk taking) dari setiap tantangan yang dihadapi.
4.Team building yang solid yang didasarkan pada saling pengertian, kerja sama, koordinasi, menghargai perbedaan, sikap mengutamakan tugas daripada kepentingan pribadi. Dan meyakini bahwa keberhasilan merupakan buah dari kerjasama dan kebersamaan
5.Peningkatan kematangan Emotional Question (EQ) melalui program Olah Rasa yang menjadi porsi perhatian outbound bahkan perhatiannya kepada pengembangan Spiritual Quotion (SQ) akan sangat membantu peserta dalam meningkatkan kematangan kemampuan menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam setiap penyelesaian tugas-tugas yang dihadapi
Outbond untuk karyawan Pusat Kesehatan Ngaglik II dilakukan pada tanggal 5 Juni 2015 di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi diawali dengan permainan ice breaking, dilanjutkan dengan outbond training berupa :
Jaring rintang air
Tangga tebing goyang
Merangkak ban di atas air
Gubug hujan
Lompat ban diatas air
Kegiatan diakhiri dengan penandantangan komitmen karyawan mendukung akreditasi Puskesmas untuk tahun 2015
Penyakit campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus, biasanya menyerang usia muda (bawah 15 tahun) dan masih sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Propinsi DIY yang juga tidak luput dari masalah penyakit ini.
Desa Sukoharjo adalah salah satu desa di wilayah Puskesmas Ngaglik 2 yang terletak berbatasan dengan Kecamatan Ngemplak, Desa Sinduharjo dan Desa Sardonoharjo dengan jumlah penduduk 12.265 (data sampai dengan bulan Juni 2011) dengan proporsi usia muda (<15 tahun) mencapai 30,45% atau 3735 orang.
Program imunisasi secara umum belum diterima sepenuhnya oleh masyarakat khususnya Dusun Tanjung Sari dan Wonosalam. Di Wilayah tersebut cakupan imunisasi campaknya rendah selama bertahun-tahun sehingga terjadi akumulasi kelompok rentan campak sehingga menimbulkan kejadian luar biasa. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut ada sebagian masyarakat yang punya pemahaman idiologi yang berbeda berkaitan dengan imunisasi. Pada tahun 2011 terjadi kasus campak di dusun Tanjung Sari dan Wonosalam sebanyak 102 orang.
Pada tahun 2014 terjadi kasus campak di wilayah Desa Donoharjo tepatnya di SDIT Hidayatullah Balong Donoharjo, para siswa sebanyak 36 anak telah terjangkit campak.
Di wilayah Puskesmas Ngaglik II terdapat kantong-kantong daerah yang menolak imunisasi dengan alasan ideologi dan kurang kesadaran.
Garda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah prajurit pengawal. Garda BIAS Campak dimaksudkan untuk seluruh elemen masyarakat menjadi pengawal kegiatan BIAS Campak di wilayah Puskesmas Ngaglik II
TUJUAN
Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan angka cakupan imunisasi BIAS Campak di sekolah-sekolah untuk mencegah terulangnya KLB Campak di wilayah Puskesmas Ngaglik II.